Jumat, 08 November 2013

Saya ingin pulang. Ke sesuatu yang namanya Rumah.

Kadang saya pikir saya pasti sudah gila. Hanya saja saya tidak menyadarinya. Iyalah. Orang gila mana yang menyadari kalau dirinya gila.
Tapi saya setengah berharap saya gila. Saya takut menghadapi kenyataan bahwa saya waras dalam keadaan seperti ini. Orang-orang rumah saya membuat saya jatuh gila. Saya tidak tahu kapan itu dimulai. Kapan saya mulai terinfeksi gila. Dan apakah mereka juga gila. Tapi bila melihat kegilaan mereka, saya ingin sekali bercermin dan mendapati bahwa saya masih waras. Setidaknya saya tidak mau mirip-mirip dengan mereka.
Saya ingin pulang cepat-cepat hanya ingin menemui kamar saya. Kamar yang tidak rapih, laptop dan modem saya, gadget-gadget saya, guling saya, bantal saya..
Saya hampir tidak pernah keluar kamar. Kecuali mandi, buang air, taruh pakaian kotor di mesin cuci (saking malasnya keluar kamar saya hanya menaruh pakaian kotor seminggu sekali), dan membuat makanan (itu juga kalau tidak ada orang rumah).
Saya benar-benar malas keluar kamar, membayangkan apa yang ada diluar kamar saya. Teriakan, lontaran-lontaran yang penuh ketegangan, ribut. Gaduh. Berisik. Kamar saya memang tidak kedap suara. Saya dengan jelas bisa mendengar ribut-ribut apa yang yang terjadi diluar kamar saya. But at least, didalam kamar saya bisa menganggap segala sesuatunya biasa saja. Mungkin itu suara tv. Mungkin itu suara film action atau serial thriller yang kadang bisa berubah menjadi tom & jerry. Tom & jerry thriller berdarah. Atau mungkin siaran radio rusak yang diputar tanpa jeda iklan.
Berbeda rasanya ketika saya keluar kamar. Semuanya menjadi double stereo dan 3D. Luar biasa. Dan saya memutuskan untuk tidak sering-sering menonton sajian 3D tersebut. Benar kata orang-orang: nonton 3D itu bikin pusing.
Saya sering mentertawai diri saya sendiri. Yang sebenarnya tidak lucu. Apa yang lucu? Tidak ada. Ingin tertawa saja. Karena saya bingung. Bingung melukiskan perasaan saya. Karena air mata saya sudah habis ketika saya kecil.
Saya ingin ada yang lucu. Satu saja hal lucu yang akhirmya mungkin bisa menghibur saya. Akhirnya saya menyerah karena tidak ada. Akhirnya saya tertawa sendiri.
Mungkin ini proses bagaimana seseorang bisa menjadi gila. Gila yang sesungguhnya yang seperti dipikirkan orang kebanyakan: tertawa sendiri.
Saya mengerti benar rasanya. Orang gila kebanyakan tidak punya tempat untuk pulang. Ini versi gila yang sering saya temukan dipinggir jalan.

Semua orang yang kelelahan seharian pasti ingin pulang. Mendapati sebuah rumah, yang belum tentu bagus, tapi ada kehangatan. Ada kenyamanan. Ada tempat untuk berbaring tanpa perasaan takut dan panik.
Sebuah rumah. Tanpa berfikir. Tanpa takut keluar kamar. Tanpa perasaan malas untuk pulang.
Sampai sekarang saya selalu panik setiap mendengar teriakan. Teriakan siapapun dan dimanapun. Itu menjadi horror trauma bagi saya.

Saya tidak pernah terbiasa walau ayah dan ibu saya teriak-teriak sepanjang waktu. Semakin hari saya semakin takut. Dan menarik selimut lekat-lekat disekujur tubuh sambil berkata "saya tidak akan seperti mereka. Tidak akan pernah. Buah bisa saja jatuh terbawa angin dan menggelinding jauh ketempat lain. Dan menumbuhkan pohonnya sendiri".
Saya ingin. Setidaknya tidak ada angin. Mungkin air hujan bisa menggelindingkan saya. Atau mungkin luwak, yang sekadar ingin mencicipi buah yang lain. Selain biji kopi.
Saya selalu membayangkan suatu hari saya bisa menikah dan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan yang berdarah ini.
Saya tidak mencintai orangtua saya? Tentu tidak benar. Bagaimana kamu bisa tidak mencintai orang yang setiap hari bertemu denganmu. Yang memberimu kehidupan, walau kehidupan itu jauh dari sempurna. Yang sudah berbuat banyak untukmu selama hidup bersama. Tapi mungkin caranya salah. Dan caranya itu yang kami tidak pernah sukai. Dan itu terjadi setiap hari. Setiap bersama. Setiap cara. Dan caranya selalu salah. Dan semakin hari semakin salah. Itu tidak ada kaitannya dengan cinta. Mereka saling tidak berkaitan dan membentuk senyawanya sendiri. Senyawa yang hampir membuat saya tidak ingin bernyawa ketika menyadarinya.

Saya hanya malas pulang.
Walau mata saya mengantuk luar biasa dan ingin sekali berbaring. Menciumi bantal saya dan mengotorinya dengan liur.

Garis besar yang kecil.

Sedari kecil saya selalu membayangkan semua utopia yang sangat jauh dari kenyataan saya. Saya selalu berkhayal. Saya selalu menginginkan ini dan menjadi itu. Saya tidak pernah seperti anak-anak kecil lainnya yang kalau ditanya apa, selalu menjawab: saya ingin jadi dokter. Saya tidak pernah ingin jadi dokter. Dari kecil saya selalu realistis dengan apa yang saya inginkan: saya hanya ingin menjadi konglomerat. Mama saya yang mengajarkan saya untuk menjawab seperti itu. Yang lalu ia memodifikasi ingatan saya dan ingatan dirinya sendiri bahwa ucapan itu adalah murni ide dari saya. Saya anak tunggal. Saya bermain sendiri. Membayangkan segala sesuatunya sendiri. Berkhayal bahwa saya selalu menjadi tokoh utama banyak cerita. Dalam cerita saya, saya selalu cantik dan bahagia. Sampai kinipun saya masih suka berkhayal. Bahwa saya adalah seseorang bernama siapa, memerankan kehidupan siapa. Tokoh khayalan saya. Saya suka melarikan diri dari saya yang sesungguhnya. Tahu kenapa? Saya tidak begitu suka tentang apa yang terjadi. Saya ingin lari. Tapi saya tidak punya tempat. Saya ingin sebuah tempat yang nyaman, tapi saya tidak punya. Gila.
Saya sering setengah berharapa bahwa saya memiliki kepribadian ganda. Atau saya sudah mati dan roh saya sesuka hati hinggap di tubuh orang lain. Sekedar meyakinkan diri bahwa saya tidak sedang berkhayal dan terlalu menginginkan kehidupan yang berbeda.
Saya ingin muntah. Memuntahkan roh saya. Memuntahkan ingatan saya.
Saya selalu iri dengan kehidupan orang lain yang bahagia. Yang sempurna. Yang lalu kamu akan mengatakan kepada saya: bahwa saya tidak bersyukur. Bahwa kebahagiaan itu hakilatnya muncul dalam diri sendiri. Saya sudah bisa membaca pikitan kamu. Bahkan sebelum kamu berpikir tentang kata-kata apa yang paling cocok untuk menasehati atau mencemooh saya.
Saya tidak perlu.
Bila kamu berniat untuk melontarkan nasehat atau kata-kata mutiara apapun, tutuplah halaman ini sebelum kamu sempat melihat tulisan selanjutnya.