Tapi saya setengah berharap saya gila. Saya takut menghadapi kenyataan bahwa saya waras dalam keadaan seperti ini. Orang-orang rumah saya membuat saya jatuh gila. Saya tidak tahu kapan itu dimulai. Kapan saya mulai terinfeksi gila. Dan apakah mereka juga gila. Tapi bila melihat kegilaan mereka, saya ingin sekali bercermin dan mendapati bahwa saya masih waras. Setidaknya saya tidak mau mirip-mirip dengan mereka.
Saya ingin pulang cepat-cepat hanya ingin menemui kamar saya. Kamar yang tidak rapih, laptop dan modem saya, gadget-gadget saya, guling saya, bantal saya..
Saya hampir tidak pernah keluar kamar. Kecuali mandi, buang air, taruh pakaian kotor di mesin cuci (saking malasnya keluar kamar saya hanya menaruh pakaian kotor seminggu sekali), dan membuat makanan (itu juga kalau tidak ada orang rumah).
Saya benar-benar malas keluar kamar, membayangkan apa yang ada diluar kamar saya. Teriakan, lontaran-lontaran yang penuh ketegangan, ribut. Gaduh. Berisik. Kamar saya memang tidak kedap suara. Saya dengan jelas bisa mendengar ribut-ribut apa yang yang terjadi diluar kamar saya. But at least, didalam kamar saya bisa menganggap segala sesuatunya biasa saja. Mungkin itu suara tv. Mungkin itu suara film action atau serial thriller yang kadang bisa berubah menjadi tom & jerry. Tom & jerry thriller berdarah. Atau mungkin siaran radio rusak yang diputar tanpa jeda iklan.
Berbeda rasanya ketika saya keluar kamar. Semuanya menjadi double stereo dan 3D. Luar biasa. Dan saya memutuskan untuk tidak sering-sering menonton sajian 3D tersebut. Benar kata orang-orang: nonton 3D itu bikin pusing.
Saya sering mentertawai diri saya sendiri. Yang sebenarnya tidak lucu. Apa yang lucu? Tidak ada. Ingin tertawa saja. Karena saya bingung. Bingung melukiskan perasaan saya. Karena air mata saya sudah habis ketika saya kecil.
Saya ingin ada yang lucu. Satu saja hal lucu yang akhirmya mungkin bisa menghibur saya. Akhirnya saya menyerah karena tidak ada. Akhirnya saya tertawa sendiri.
Mungkin ini proses bagaimana seseorang bisa menjadi gila. Gila yang sesungguhnya yang seperti dipikirkan orang kebanyakan: tertawa sendiri.
Saya mengerti benar rasanya. Orang gila kebanyakan tidak punya tempat untuk pulang. Ini versi gila yang sering saya temukan dipinggir jalan.
Semua orang yang kelelahan seharian pasti ingin pulang. Mendapati sebuah rumah, yang belum tentu bagus, tapi ada kehangatan. Ada kenyamanan. Ada tempat untuk berbaring tanpa perasaan takut dan panik.
Sebuah rumah. Tanpa berfikir. Tanpa takut keluar kamar. Tanpa perasaan malas untuk pulang.
Sampai sekarang saya selalu panik setiap mendengar teriakan. Teriakan siapapun dan dimanapun. Itu menjadi horror trauma bagi saya.
Saya tidak pernah terbiasa walau ayah dan ibu saya teriak-teriak sepanjang waktu. Semakin hari saya semakin takut. Dan menarik selimut lekat-lekat disekujur tubuh sambil berkata "saya tidak akan seperti mereka. Tidak akan pernah. Buah bisa saja jatuh terbawa angin dan menggelinding jauh ketempat lain. Dan menumbuhkan pohonnya sendiri".
Saya ingin. Setidaknya tidak ada angin. Mungkin air hujan bisa menggelindingkan saya. Atau mungkin luwak, yang sekadar ingin mencicipi buah yang lain. Selain biji kopi.
Saya selalu membayangkan suatu hari saya bisa menikah dan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan yang berdarah ini.
Saya tidak mencintai orangtua saya? Tentu tidak benar. Bagaimana kamu bisa tidak mencintai orang yang setiap hari bertemu denganmu. Yang memberimu kehidupan, walau kehidupan itu jauh dari sempurna. Yang sudah berbuat banyak untukmu selama hidup bersama. Tapi mungkin caranya salah. Dan caranya itu yang kami tidak pernah sukai. Dan itu terjadi setiap hari. Setiap bersama. Setiap cara. Dan caranya selalu salah. Dan semakin hari semakin salah. Itu tidak ada kaitannya dengan cinta. Mereka saling tidak berkaitan dan membentuk senyawanya sendiri. Senyawa yang hampir membuat saya tidak ingin bernyawa ketika menyadarinya.
Saya hanya malas pulang.
Walau mata saya mengantuk luar biasa dan ingin sekali berbaring. Menciumi bantal saya dan mengotorinya dengan liur.